Senin, 14 Januari 2013

PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA


PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA

Beberapa lama setelah wafatnya Mpu Gandring Sakti, ada niat Brahmana Dwala untuk melaksanakan pudgala (dwijati) untuk menjadi seorang brahmana (pandhita), akan tetapi tidak ada satu orangpun yang dianggap patut menjadi gurunya (nabe). Untuk itu lalu dibuatlah arca pralingga Bhatara Kawitan yaitu Bhagawan Pandya Mpu Bumi Sakti dan istrinya Dyah Amertatma, kemudian arca tersebut ditempatkan di depan Padmasana di Pasraman Kayumanis Madura. Setiap hari Brahmana Dwala selalu memuja Bhatara kawitan, demikian taatnya melakukan yoga semadi, akhirnya Bhatara kawitan berkenan menganugerahkan ‘pustaka bang’ kepada Brahmana Dwala yaitu ajaran atau pustaka yang berisi cara cara untuk mencapai kebahagian hidup dan mati, sehingga hidup menjadi tenang dan tuntunan bekerja dengan baik dan benar. Demikian halinya Brahmana Dwala melakukan pekerjaan pande, sehingga beliau dijuluki ‘putra bhagawan Wiswakarma’, dan setelah melaksanakan pudgala dengan cara demikian, akhirnya Brahmana Dwala diberi gelar Mpu Dwala.


Setelah kawin berumah tangga, Mpu Dwala kemudian berputra 2 orang laki laki, yang sulung bernama Arya Pande Beratan dna adiknya bernama Arya Pande Sadhaka. Pada saat ini Mpu Dwala membuat pasraman di Desa Beratan. Ketika itu yang bertahta di Bali adalah Dalem Waturenggong yang bergelar Sri Jaya Kresna Kepakisan yang dinobatkan pada tahun Isaka 1382 dan berkuasa sampai dengan tahun ISaka 1472 (1460-1550 M).
Pemerintahan beliau dibantu oleh I Gusti Agung Widya dan I Gusti Dawuh Bale Agung.
Pada tahun 1478 M dalam pemerintahan Dalem Waturenggong, akan diselenggarakan upacara besar di Pura Besakih, yaitu Eka Dasa Rudra, atas nasihat DangHyang Nirartha selaku cudamani Dalem. Namun pada masa itu tidak tidak ada Pande Mas yang mumpuni di sekitar puri. Dalam keadaan bingung tersebut, tiba-tiba ada berita bahwa di Beratan ada seorang Pande yang bernama Arya Pande Wulung, Pande asal Madura putera Brahmana Dwala. Arya Pande Wulung adalah nama lain dari Arya pande Sadhaka, setelah madwijati bergelar Mpu Sadhaka adalah ahli dalam ilmu Kapandeyan terutama dalam membuat busana dan perhiasan dari emas dan perak, serta ahli dalam permata manic manikin. Mpu Sadhaka lalu diundang oleh Dalem Waturenggong, setibanya di Gelgel, Dalem Waturenggong lalu minta bantuan Mpu Sadhaka untuk membantu pekerjaan persiapan yajna Eka Dasa Rudra di Besakih. Mpu Sadhaka menyatakan bersedia membantu sesuai kemampuan yang dimiliki. Kemudian upacara Eka Dsa Rudra berlangsung lancer dan sukses, lalu Dalaem Waturenggong menganugerahkan hadiah kepada semua orang yang dianggap berjasa, termasuk Mpu Sadhaka yang juga diberi gelar Mpu Swarnangkara. Setelah semuanya selesai Mpu Sadhaka kembali ke pasaraman di Beratan.

Tiak diceritakan lebih lanjut, Mpu Sadhaka menurunkan pratisentana, masing masing bernama Arya Danu, Arya Suradnya setelah madwijati bergelar Mpu Pande Rsi, adiknya bernama Pande Tusta, Pande Tonjok yang ahli membuat senjata tajam, dan yang bungsu bernama Ida Wana ahli dalam pekerjaan sangging. Kemudian ada yang menjadi Kepala Desa di Beratan bernama I Gusti Pande Beratan.

Pada suatu hari, sabtu kliwon, diceritakan Arya Pande Beratan sedang asyiknya menyapu dihalaman Pura Ulun Danu Beratan, desa Candikuning, tiba tiba beliau merasa dikagetkan dengan kedatangan enam orang pedagang keliling (pengalu) dari desa Batur Kintamani, yang menambatkan kudanya di jaba sisi Pura Ulun Danu. Tampak dalam pandangan Arya Pande Beratan, pedagang tersebut begitu saja menambatkan kudanya tanpa memperhatikan bahwa itu adalah sebuah pura atau tempat suci. Dengan perlahan dan penuh kesopanan Arya pande Beratan menegur pedagang tersebut, meminta agar jangan menambatkan kudanya di halaman pura. Namun pedagang tersebut menjawab dengan kasar, seraya mengatakan tidak akan memindahkan kudanya. Karena tersinggung dan merasa ditantang, Arya pande Beratan memanggil saudara-saudaranya yang cepat datang lengkap dengan senjata ditangan. Akhirnya pedagang tersebut diserang. Satu orang tewas, sedangkan sisanya melarikan diri.

Pedagang yang selamat, yang melarikan diri akhirnya sampai juga di Batur. Mereka melaporkan kepada seluruh sanak keluarganya, bahwa mereka diserang dan dirampok oleh warga Pande Beratan yang mengakibatkan seorang temannya tewas. Mendengar laporan tersebut, seluruh sanak keluarganya yang merupakan keturunan dari Pasek Kayu Selem, menjadi sangat marah. Akhirnya kentongan dibunyikan, maka berkumpulah seluruh sanak keluarga mereka seraya membawa senjata lengkap guna menyerang warga Pande Beratan.
Maka terjadilah pertempuran yang sangat sengit di Beratan, banyak korban jatuh dikedua belah pihak. Namun karena kalah jumlah, kahirnya warga Pande Beratan dibuat kocar kacir, banyak keluarga yang tewas, yang selamat melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa yang tidak terjangkau oleh musuh. Peristiwa ini terjadi tahun 1570 M pada masa pemerintahan Dalem Bekung.

Diantara warga Pande yang melarikan diri itu, antara lain Mpu Jagarosa dengan membawa ‘Pustaka Bang’ melarikan diri ke desa Taman. Pande Sarwadha ke desa Kapal, Arya Pande Ramaja mengungsi ke desa Mengwi, Arya Karsana ke Badung.
Arya Pande Swarna ke Buleleng, lalu mengabdi kepada Raja Buleleng I Gusti Agung Panj Sakti. Ada pula yang pindah ke desa Tusan daerah Klungkung, Arya Pande Ruktya ke Bangli dengan membawa 2 arca kawitan, saudara spupunya pindah ke Samu, sedangkan Ida Arya Wana ke Bayan dan menajdi seorang undagi.

Adapun Mpu Tarub pindah ke desa Marga, Arya Pande Dhanuwangsa pindah ke Desa Gadung Tabanan. Mpu Tarub yang sudah tinggal di desa Marga, pada hari Sabtu Kliwon wara Kuningan bertepatan dengan Suklapaksa melakukan yoga semadi di Pura Penatarannya, disana beliau mendengar sabda dari bhatara Kawitan yang mengatakan “janganlah engkau terlalu bersedih hati karena tertimpa musibah, sebab peristiwa ini merupakan kutukan dari Hyang Widi merupakan karmaphala, sebab kamu sebagai keturunan seorang brahmana telah melakukan kejahatan membunuh seseorang. Dan yang menjadi korbannya adalah warga Pasek keturunan Mpu Ketek yang juga keturunan brahmana dan masih kerabatmu yang berasal dari satu kawitan. Kemudian bilamana engkau menyelenggarakan yajna jangan mempergunakan tirta brahmana (pedanda), sebab kalau engkau memakai tirta brahmana sama dengan kamu melupakan atau melalaikan kawitanmu, aku adalah Brahmana Dwala atau Mpu Dwala leluhurmu. Semua sabdaku ini agar disampaikan kepada anak cucu keturunanmu” demikian sabda Brahmana Dwala kepada Mpu Tarub.

Begitu juga Arya Pande Ruktya di Bangli, tetap setia kepada dharmanya yaitu Pande emas dan perak, dan ketika itu yang berkuasa sebagai Anglurah di Bangli adalah I Gusti Paraupan, dibantu oleh sanak keluarganya bernama I Gusti Pemamoran, I Gusti Baingin dan lain lainnya. Sedangkan di Tamanbali yang bertahta sebagai raja ialah keturunan Tirtha Arum dan waktu itu terjadi perselisihan antara Anglurah Bangli dengan raja Tamanbali. Lalu I Gusti Paraupan di Bangli diserang oleh oleh raja Tamanbali bersama keluarganya, antara lain I Dewa Pering dari Nyalian, I Dewa Pindi dari Pegesangan. Maka terjadilah pertempuran yang sengit antara rakyat Bangli melawan rakyat Tamanbali, Nyalian, Pegesangan dan lain lain. Akhirnya I Gusti Peraupan menderita kekalahan dan gugur dalam pertempuran bersama sanak saudaranya. Sedangkan I Gusti Pemamoran disertai Arya Pande Ruktya dan Arya Pande Likub serta sanak saudaranya melarikan diri ke desa Camenggaon Gianyar, kemudian Arya Pande Likub melanjutkan perjalanan ke desa Timbul dengan membawa dua buah arca Kawitan. Akan tetapi di desa Timbul Arya pande Likub merasa kurang mendapat simpati dari masyarakat disana.

Karena terus dikejar musuh, Arya Pande Ruktya yang semula satu rombongan dengan I Gusti Pemamoran, akhirnya terpisah. Arya Pande Ruktya seterusnya bertempat tinggal di Blahbatuh berlindung kepada I Gusti Ngurah Jelantik. Tidak lama kemudian Arya pande Ruktya meninggal dunia karena sakit kena racun. Sanak keluarga Arya Pande Ruktya yang lain, lama kelamaan lupa dan lalai terhadap Bhatara Kawitan, akibatnya tidak menentu hidupnya, kemudian akhirnya mereka mengerti dan menjalankan dharma dan bakati kepada Bhatara Kawitan, sebab itu mereka membangun parahyangan”Ratu Kepandean” dan “Dalem Bangli”, sejak saat itu hidup mereka berangsur-angsur membaik dan semakin bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar